Social Icons

http://twitter.com/eui5_kurniawati

Featured Posts

About my blog:

Blog pembelajaran matematika, pembelajaran dalam kehidupan dan perenungan.

About my blog:

Blog pembelajaran matematika, pembelajaran dalam kehidupan dan perenungan.

About my blog:

Blog pembelajaran matematika, pembelajaran dalam kehidupan dan perenungan.

About my blog:

Blog pembelajaran matematika, pembelajaran dalam kehidupan dan perenungan.

About my blog:

Blog pembelajaran matematika, pembelajaran dalam kehidupan dan perenungan.

Kamis, Maret 10, 2016

Download Materi Pengayaan Ujian Nasional (UN) Jenjang SMP Tahun 2016



Bagi Anda yang membutuhkan materi pengayaan Ujian Nasional (UN) Tahun 2016 jenjang SMP yang diterbitkan oleh Kemdikbud silahkan klik link download berikut ini:
1. Bahasa Indonesia, klik DISINI.
2. Bahasa Inggris, klik DISINI.
3. Matematika, klik DISINI.
4. IPA (Fisika), klik DISINI.

Minggu, Januari 24, 2016

Download Materi Pengayaan UN Tahun 2015 Jenjang SMP/MTs


Tahun lalu Kemdikbud merilis ebook materi pengayaan 4 mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional (UN) jenjang SMP/MTs tahun 2015. Untuk tahun 2016, sampai postingan ini dipublish masih belum ada materi pengayaan UN tahun 2016.

Namun demikian, materi pengayaan tahun 2015 tetap sangat recomended untuk dijadikan bahan belajar. Nah, bagi Anda yang membutuhkan materi pengayaan tersebut, silahkan download:
1. Bahasa Indonesia, klik DISINI.
2. Matematika, klik DISINI.
3. Bahasa Inggris, klik DISINI.
4. IPA Fisika, klik DISINI.
5. IPA Biologi, klik DISINI.


Senin, November 23, 2015

Quiz 1 Volum dan Luas BRSL (Bangun Ruang Sisi Lengkung)



Quiz 1 berisi 10 soal mengenai volum dan luuas permukaan BRSL (Bangun Ruang Sisi Lengkung).

Kalian diberi kesempatan 2 kali mengerjakan kuis ini, perolehan nilai terbesar akan dimasukkan sebagai nilai tugas Bab Volum dan Luas BRSL.

Jangan lupa masukkan nama dan alamat email kalian ya.

Klik gambar di bawah ini:





Selamat mengerjakan semoga sukses.


^_^

Rabu, Mei 20, 2015

Video Animasi: Flowers Problem

Video ini dibuat 31 Januari 2015 lalu. Pengalaman yang seru karena harus berkali-kali cropping body dan face puppet. Puppetnya diriku sendiri dan orang-orang tercintaku yaitu putriku dan suami. Haha.... Senang saja melihat video animasi buatanku sendiri. Meski masih sederhana tapi berkesan. Terima kasih Pak Sukani dengan DOGMITnya.


Selasa, Mei 19, 2015

Senin, Mei 04, 2015

Pantauan Hari Pertama UN SMP 2015

Tadi pagi sebelum memasuki ruang ujian penulis sempat menduga-duga mengenai seputar pelaksanaan UN terutama jumlah paket naskah soal. Rupanya penulis tak sendiri karena pengawas lain pun menanyakan hal yang sama. Untungya sebelum UN hari pertama dimulai sempat diberikan panduan singkat oleh kepala sekolah tempat penulis mengawas UN yaitu bahwa kemungkinan naskah soal UN SMP tahun 2015 sebanyak 5 paket yang berbeda. Info yang sangat melegakan bagi pengawas UN. Lho memangnya kenapa?

Tugas seorang pengawas UN tidaklah semudah seperti yang terlihat. Tugas ini benar-benar mempertaruhkan masa depan peserta didik. Nilai UN peserta didik berawal dari tangan para pengawas UN. Hiiiyy...seram juga ya kedengarannya. Betapa tidak, seandainya pengawas melakukan kesalahan teknis dalam membagikan naskah UN akan berakibat fatal. 

Misalnya saja, mulai tahun 2014 LJUN tidak terpisah dari naskah soal, LJUN berada di halaman terakhir dan harus disobek atau dipotong agar terpisah dari naskah soal UN secara hati-hati agar tidak rusak. Bagusnya LJUN dipotong oleh siswa atau guru pengawas setelah naskah soal selesai dibagikan. Mungkin karena tidak fokus (belum minum Aqua? ^_^) atau karena terburu-buru, bisa saja terjadi pengawas memotong semua LJUN dari setiap naskah soal UN, kemudian LJUN tersebut dibagikan terlebih dahulu tanpa dipasangkan dengan naskah soal UN aslinya sebelum dipotong, kemudian naskah soal UN baru dibagikan setelahnya. Hal tersebut dapat mengakibatkan tertukarnya pasangan LJUN dan naskah soal dengan barcode yang sama (LJUN dan paket soalnya). Nah, jika barcode pada LJUN berbeda dengan barcode pada naskah soal UN (misal barcode LJUN 12345678 sedangkan barcode naskah soal yang dikerjakan 31245678) maka pada saat pemeriksaan jawaban UN oleh komputer, jawaban pada LJUN berbarcode 12345678 tersebut akan dicocokkan dengan kunci jawaban menggunakan kunci paket soal berbarcode 12345678 yang berbeda dengan yang sesungguhnya dikerjakan oleh siswa yaitu 31245678. Waduh, super gawat kan akibatnya.

Apa mungkin terjadi kekeliruan seperti itu? Mungkin dan sangat mungkin. Apalagi jika jumlah paket soal seperti tahun 2014 yang berjumlah 20. Bayangkan 20 paket soal berbeda dengan barcode yang tak mudah dibedakan oleh mata pengawas. Nah lho. Parahnya lagi naskah soal UN tahun 2014 ada yang belum disusun sesuai nomor halaman atau ada juga nomor ganda untuk beberapa soal. Tambah puyeng kan pala pengawas?

Untunglah teknis pelaksanaan UN tahun ini nampaknya lebih disederhanakan dan diperbaiki. hal itu terlihat dari jumlah paket soal yang lebih sedikit, kalau tidak salah lihat tadi 5 paket, besok dicek lagi dan kalau ternyata keliru akan saya update tulisan ini. Kualitas kertas naskal soal UN juga lebih berkualitas, kertas yang digunakan lebih tebal jadi tidak mudah kusut. Perakitan naskah soal sudah bagus semua halaman soal berikut LJUN tertata  rapi sesuai urutan nomor halaman. Pengawas cukup terbantu dan tidak direpotkan dengan penyusunan ulang halaman soal.

Pada kolom isian LJUN terdapat satu hal yang agak membingungkan siswa yaitu pada kolom Nama Sekolah tertera tuliisan S/M/PK. Beberapa siswa peserta UN di ruang ujian yang diawas oleh penulis (tanpa bertanya sebelumnya) kedapatan malah mengisi kolom tersebut dengan namanya sendiri. Tentu saja pengawas segera meminta siswa untuk memperbaiki kekeliruan tersebut yaitu seharusnya diisi dengan nama sekolah tempat mereka belajar. Mengenai arti dari S/M/PK ternyata S untuk SMP, M untuk MTs, dan PK untu Paket (Kejar Paket B).

Alhamdulillah hari ini penulis telah menyelesaikan tugas sebagai pengawas Ujian Nasional (UN) jenjang SMP tahun 2015 mata pelajaran Bahasa Indonesia. Masih tersisa 3 hari kedepan, semoga tidak ada kendala yang berarti, tetaap lancar dan sukses sampai akhir. Aamiin....

Minggu, Mei 03, 2015

Perlahan Tapi (Insya Allah) Pasti

Tulisan berikut merupakan postingan lawas saya di Kompasiana yang telah saya revisi dan rasanya masih relevan dengan semangat KSGN (Komunitas Sejuta Guru Ngeblog) yang tengah menyelenggarakan lomba (2 s.d. 20 Mei 2015) dengan tema: "Bangkitlah Pendidikan Di Negeriku Tercinta".

Banyak faktor yang berpengaruh dalam rangka membangkitkan kualitas pendidikan di Indonesia yang selama ini dinilai masih tertinggal dari negara-negara lain. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah: faktor tujuan, faktor guru (pendidik), faktor siswa, faktor alat, dan faktor masyarakat (lingkungan). Setiap faktor yang berpengaruh membutuhkan pembahasan tersendiri namun untuk tulisan kali ini akan membidik faktor guru terlebih dahulu. Selain karena penulis seorang guru juga karena guru merupakan sosok sentral dalam terpuruk dan bangkitnya mutu prndidikan di suatu negara.

Dalam Modul 3 Diklat Online P4TK Matematika yang telah saya baca, ada tiga level atau tingkatan guru dalam paparan materi sebagaimana dinyatakan Sugiyama (2008) yang dikutip Sutarto Hadi (2009), yaitu:

  1. Guru level 1 yang hanya mengajari siswanya untuk menghafal dan mengingat saja.
  2. Guru level 2 yang berusaha membantu atau memfasilitasi siswanya agar memahami ide-ide matematika.
  3. Guru level 3 yaitu para guru yang secara pelan tetapi pasti akan terus berusaha untuk membantu atau memfasilitasi siswanya agar menjadi siswa yang mandiri.

Sesungguhnya kesadaran mengenai peran saya sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran sudah ada dalam diri saya serta keinginan agar siswa saya menjadi siswa yang mandiri menjadi keinginan yang sangat saya dambakan. Namun menghadapi realita yang ada di sekolah, dimana input siswa merupakan siswa yang tidak lolos masuk ke sekolah lain yang lebih representatif dan difavoritkan oleh siswa menjadi salah satu hal yang terkadang menciutkan harapan saya. Bagaimana tidak, saya sudah sering mencoba metoda pembelajaran kooperatif namun hasilnya belum memuaskan dalam arti masih saja ada siswa yang pasif dan sangat tergantung kepada temannya dalam mengerjakan tugas-tugas baik individu maupun kelompok.

Melakukan teknik bertanya yang walaupun belum semuanya sesuai dengan kriteria pertanyaan efektif, lebih sering tak bersambut. Hanya beberapa siswa yang menyambut pertanyaan dengan jawaban, sisanya melongo. Saya ubah strategi dengan lebih banyak memberikan kesempatan bagi siswa untuk bertanya kepada guru (saya) hasilnya lebih parah, tidak setiap pertemuan ada siswa yang mau bertanya. Miris rasanya kalau harus membuka kekurangan siswa saya karena secara tidak langsung hal tersebut membuka kenyataan bahwa saya merasa menjadi guru yang tidak berdaya menghadapi kondisi seperti itu. Untungnya saya tidak sendirian, guru-guru mata pelajaran lain ternyata mengeluhkan hal yang sama, kecuali guru mata pelajaran olah raga.

Namun  saya merasa masih beruntung karena semangat untuk terus memperbaiki diri sebagai seorang guru tetap tumbuh.  Saya sadar, mungkin saya memang bukan seorang guru yang hebat bagi mereka, siswa saya yang sering tidak konek tersebut. Oleh karena itu sejak tahun 2012 saya mengikuti setiap diklat online yang saya ketahui. Harapannya agar mendapat wawasan baru mengenai strategi yang dapat digunakan agar siswa lebih termotivasi dalam pembelajaran matematika.  Apalagi tantangan yang makin beragam serta adanya tuntutan dalam Kurikulum 2013 dimana guru diharapkan menjadi ‘model’ atau ‘teladan’ selama proses pemecahan masalah yang sedang berlangsung dengan dimilikinya (1) pengetahuan matematika, (2) strategi pemecahan masalah, (3) kemampuan berpikir yang dapat berupa kemampuan benalar [Induksi (Analogi dan Generalisasi) serta Deduksi]. Proses peningkatan kualitas seorang guru sudah selayaknya untuk terus ditingkatkan.

Meskipun tantangan di sekitar saya masih ada, diantaranya komentar yang dapat melemahkan semangat saya dari rekan-rekan di sekolah seperti: “Sudahlah bu percuma ikutan diklat online juga karena walaupun hasilnya diimplementasikan, sekolah kita serba terbatas fasilitasnya dan siswa kita merupakan siswa yang mayoritas berkemampuan belajar rendah.”, “Sekolah kita dikenal oleh guru di daerah lain bukan karena siswanya berprestasi tapi hanya segelintir guru yang aktif dan berprestasi.” Duh…

Namun saya tetap maju. Bukan untuk menyombongkan diri, namun untuk memberi “teguran” halus bagi rekan-rekan yang tak ingin keluar dari zona nyaman, untuk memberi contoh bagi guru-guru muda agar semangat dan idealisme mereka tak pupus, untuk memberi contoh kemandirian belajar bagi siswa saya bahwa belajar bisa dimana saja, kepada siapa saja serta kapan saja, dan utamanya untuk diri saya sendiri. Meskipun kondisi kesehatan saya yang sering nge-drop karena mengidap penyakit AIHA (Auto Immune Hemolitic Anemia) sehingga baberapa kesempatan emas terpaksa tidak dapat diikuti (seperti panggilan Diklat PKB dari PPPPTK Matematika) dan beberapa even lomba bagi guru, saya tetap punya kesempatan untuk menambah ilmu di diklat online.

Jadi, pada level berapakah keberadaan saya? Silahkan Anda simpulkan sendiri. Hehe..... Salam pendidikan!

Sabtu, Mei 02, 2015

Memperingati Hardiknas: Apa Kabar Pendidikan Indonesia?

Para pengguna internet hari ini tentu akan melihat ada tampilan lain dalam logo Google seperti tampak pada gambar berikut;


Itulah salah satu bentuk penghormatan yang diberikan oleh Google Indonesia untuk mengenang jasa Ki Hajar Dewantara pada peringatan Hari Pendidikan Nasional. Bagaimana dengan masyarakat Indonesia khususnya yang terlibat langsung dalam dunia pendidikan? 

Upacara Hardiknas yang diselenggarakan setiap tanggal 2 Mei menjadi salah satu cara untuk me-refresh memori kita untuk mengenang dan meneladani perjuangan Ki Hajar Dewantara di masa lampau. Namun diakui atau tidak peringatan Hardiknas kini lebih sebagai kegiatan rutinitas tahunan yang bersifat seremonial. Mengapa demikian?

Dulu saat penulis masih duduk di bangku dasar dan menengah, upacara apapun termasuk peringatan Hardiknas, masih jarang ditemukan siswa yang jongkok disaat rangkaian pokok upacara berlangsung. Lain sekali dengan siswa jaman masa kini. Jongkok dan ngobrol menjadi pemandangan biasa yang saya temukan. Pembina upacara menyampaikan amanat yaitu berupa pembacaan naskah pidato Mendikbud RI namun mayoritas peserta upacara (siswa dan termasuk Bapak dan Ibu Guru) asyik ngobrol kiri-kanan. Alhasil, makna dari peringatan Hardiknas itu sendiri jauh panggang dari api. Miris bukan?

Jika saja peserta upacara mau menyimak isi pidato Mendikbud RI tentang "Pendidikan dan Kebudayaan Sebagai Gerakan Pencerdasan dan Penumbuhan Generasi Berkarakter Pancasila", tentu dapat mendengar secara jelas pesan yang disampaikan bahwa pendidikan harus dipandang sebagai ikhtiar kolektif seluruh bangsa, pendidikan tidak bisa dipandang sebagai sebuah program semata. Karenanya semua elemen masyarakat harus terlibat dalam mendorong pendidikan menjadi gerakan semesta, yaitu gerakan yang melibatkan  seluruh elemen bangsa.

Yang paling penting untuk diresapi dari isi pidato tersebut adalah pentingya "rasa memiliki" dan "rasa peduli" dari setiap elemen masyarakat sehingga lebih peduli dengan apa yang terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Betapa pentingnya rasa memiliki atas problematika pendidikan agar semua bersedia menjadi bagian dari ikhtiar untuk menyelesaikan problematika itu sebagaimana yang telah disampaikan oleh Mendikbud.

Pemandangan yang membuat miris pada saat upacara dapat dijadikan sebagai contoh kecil mengenai betapa rendahnya rasa memiliki dan rasa peduli peserta upacara (dalam hal ini siswa dan guru) terhadap prpblematika pendidikan. Tidak merasa penting untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan upacara, tidak merasa penting untuk menyimak pidato pembina upacara, tidak perduli dengan teguran guru, tidak merasa malu sebagai guru yang mestinya menjadi suri tauladan termasuk sikap dalam mengikuti upacara, dan tidak perduli dengan pandangan masyarakat. Bukankah hal tersebut realita yang kini marak dan menjadi salah satu penyebab bertambahnya problematika pendidikan di Indonesia?

Seandainya Ki Hajar Dewantara melihat bagaimana perilaku siswa dan guru kini, mungkin Beliau akan menangis. Mungkin.